Advertise Here

mengenal lingkungan

- Another Blogger Blog's

Siberia, Padek—Sebuah gempa besar berkekuatan 6,8 SR melanda Siberia, wilayah tenggara Rusia, pada Minggu (26/2). Getaran akibat tumbukan kerak bumi itu, membuat warga dekat perbatasan Mongolia itu terbangun dari tidur mereka. Namun, belum ada laporan korban atau kerusakan.

Survei Geologi AS sebagaimana dilaporkan Reuters menyebutkan, pusat gempa berasa sekitar 90 kilometer (60 mil) timur Kota Kyzyl, pada kedalaman sekitar 11 Km.  Sedangkan Xinhua melaporkan, gempa berkekuatan 7 SR pukul 14:17 waktu setempat. Menurut pusat jaringan gempa di Cina (CENC), pusat gempa berada pada 51,7 derajat lintang utara dan 96,0 derajat bujur timur, serta berada pada kedalaman 10 kilometer.

Ini gempa besar kedua yang mengguncang wilayah itu dalam dua bulan terakhir. Pada Desember tahun lalu, kegiatan penambangan batu bara di Kuzbass, wilayah batu bara terbesar di Rusia dihentikan ketika gempa berkekuatan 6,9 mengguncang di dekat Kyzyl.

Kantor berita RIA melaporkan, warga di pusat kota Kyzyl berkumpul di luar rumah-rumah mereka dan kementerian darurat memperingatkan potensi gempa susulan. “Piring jatuh dari rak-rak di rumah bergetar sangat kuat. Mereka mengingatkanku pada gempa bulan Desember,” kata seorang warga setempat.

RIA mengutip kementerian keadaan darurat regional untuk Siberia timur mengatakan, pihaknya belum ada menemukan dan belum menerima laporan korban terluka dan kerusakan parah dalam gempa itu.

Seorang ilmuwan Rusia Viktor Seleznyov mengatakan, gempa tersebut akan memicu gempa baru di wilayah itu. ”Dilihat dari data yang diterima dari stasiun kami, ini bukan kelanjutan dari gempa Tyva yang terjadi pada akhir 2011. Pusat gempa tersebut merupakan sinyal gempa bumi seri baru,” kata Viktor Seleznyov, Direktur Institut Geofisika dari Akademi Ilmu Pengetahuan Rusia.

Menurut data awal yang dilaporkan Kementerian Darurat Rusia, gempa bumi itu tidak menimbulkan korban atau kerusakan. Viktor memperkirakan gempa berikutnya akan menyerang kawasan dekat Danau Baikal. (RTR/Xinhua/RIA/esg)
SUMBER:http://padangekspres.co.id/?news=berita&id=24682
INILAH.COM, Padang - Sumatera Barat berduka dan menangis lagi. Sebelumnya Pasaman dilanda musibah galodo. Kini, warga Malalo, Tanah Datar menerima musibah bencana alam serupa. Tak ada korban jiwa, namun fasilitas publik dan sawah banyak yang hancur.

Belum kering air mata warga Pasaman akibat banjir bandang, kini bencana banjir bandang kembali menghantam kawasan Singkuang Jorong Tangah XX Nagari Padang Laweh Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar. Banjir bandang itu terjadi pukul 22.30 WIB hingga 23.30 WIB pada Minggu (26/2) malam.

Banjir bandang yang menghantam Padang Laweh ini merusak dua rumah warga dan dua musala. Tak hanya itu puluhan hektare sawah lenyap tertimbun tanah dan bebatuan. Jalan Singkuang juga ikut amblas, sehingga akses jalan menuju Singkuang jadi terputus.

Tidak ada korban jiwa dan luka-luka, tapi bencana itu membuat suplai air bersih jadi terputus, karena pipa sambungan air bersih ikut patah diterjang banjir bandang. Untuk mengatasi air bersih, saat ini pemerintah setempat telah menyediakan satu unit mobil PDAM, yang berjarak sekitar 300 meter dari lokasi banjir bandang.

Sementara itu, ada sekitar 11 Kepala Keluarga (KK) yang terpaksa mengungsi ke rumah sanak keluarganya, karena takut akan terjadi banjir bandang susulan.

Hingga Senin (27/2) kemarin, beberapa petugas Tim SAR telah dikerahkan untuk evakuasi warga dan barang-barang berharga milik warga. Namun satu unit alat berat yang dikerahkan belum bisa berbuat banyak, karena akses jalan yang rumit.

Menurut Bastian (40), salah seorang korban banjir bandang, Ia mendengar tiga kali suara keras mirip sebuah letusan. Tak lama kemudian, Ia melihat air bercampur lumpur memasuki rumahnya setinggi lutut.

“Waktu itu saya sudah tidur, dan terbangun ketika mendengar ada letusan keras. Awalnya saya tak menduga akan terjadi banjir bandang. Saya baru menyadarinya, saat air bercampur lumpuh telah masuk ke rumah saya,” ujar Bastian.

Bastian mengatakan, ada 11 orang yang tinggal di rumahnya, yang terdiri dari istri, anak dan kedua orangtuanya. Saat rumahnya dimasuki air bercampur lumpur, Ia segera memboyong semua keluarga besarnya ke rumah sanak family yang dirasakan aman, yang berjarak sekitar 20 meter.

Bastian mengaku, Ia mengalami kerugian sekitar Rp150 juta. Akibat banjir bandang itu, pagar dan teras rumahnya porak poranda. Ia juga kehilangan satu unit mobil Kijang Kapsul, serta beberapa perlengkapan rumah tangganya juga rusak.

Dari keterangan sejumlah warga sekitar, diduga kuat banjir bandang itu diakibatkan oleh retaknya Bukit Patah Gigi, sehingga terjadi longsor besar ketika hujan lebat. Lokasi longsor diperbukitan itu juga tak sanggup menahan debit air yang besar, sehingga terjadilah banjir bandang yang menuju Sungai Rak Ilie yang melintasi kawasan Singkuang.

Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah setempat apakah diberlakukan masa tanggap darurat atau tidak atas kejadian itu. Beberapa warga mengaku belum mendapat bantuan, dan pejabat yang baru mengunjungi lokasi, baru pejabat tingkat kecamatan. [mar]
SUMBER:http://sindikasi.inilah.com/read/detail/1835068/lagi-banjir-bandang-serang-padang
BOGOR (Suara Karya): Sekitar 130 orang dari sekitar 20 kepala keluarga (KK) di Kampung Padasuka, RT 04 dan RT 05/RW 12 Kelurahan Gudang, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, Jawa Barat, diungsikan sementara waktu dari lokasi longsor.
"Untuk sementara warga yang rumahnya berada di sekitar lokasi longsor diungsikan karena dikhawatirkan ada longsor susulan," kata Dandim 0606 Kota Bogor, Letkol Kav Sinyo di Bogor, Minggu.
Dandim mengatakan, untuk sementara waktu warga ditempatkan di aula Kelurahan Gudang yang berada tidak jauh dari lokasi longsor. Pihaknya telah menyiapkan dapur umum untuk keperluan warga selama berada di kelurahan.
Menurut Sinyo, evakuasi warga dilakukan karena dikhawatirkan retakan tanah makin melebar sehingga cukup membahayakan bagi warga yang rumahnya berada sekitar lokasi kejadian.
Sementara itu, proses evakuasi satu orang korban yang masih terjebak di reruntuhan dihentikan sementara karena hujan deras yang terus mengguyur wilayah Kota Bogor.
"Pencarian akan dilanjutkan Senin (27/2) pagi. Dilihat dari situasi dan kondisi di lapangan sangat tidak memungkinkan dilakukan evakuasi Minggu malam. Selain karena hujan, ancxaman longsor juga cukup berbahaya bagi petugas," kata Sinyo.
Peristiwa longsor terjadi Minggu pagi sekitar pukul 08.30 WIB. Sekitar empat bangunan rumah yang dihuni 12 kepala keluarga hancur akibat tertimpa reruntuhan longsor. Salah seorang warga, E Fatimah (70) dikabarkan masih tertimbun reruntuhan rumah yang tertimpa longsor. Korban tidak dapat menyelamatkan diri karena sudah tua dan dalam kondisi sakit akibat stroke. Sementar anak dan menantu korban telah menyelamatkan diri pada saat peristiwa terjadi.
Sekretaris Daerah Kota Bogor, Bambang Gunawan menyarankan kepada warga yang tinggal di sekitar lokasi longsor untuk bersedia direlokasi ke rusunawa mengingat kondisi tanah yang labil serta padatnya penduduk di kawasan tersebut sangat tidak representatif untuk warga.
"Kami minta lurah mendata siapa saja warga yang ingin pindah. Kami akan mengakomodasi mereka yang berkeinginan menempati rusunawa," kata Sekda.
Sementara itu tanah longsor menutup jalan alternatif menuju Palabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, tepat di Kampung/Desa Pamuruyan, Kecamatan Cikidang, Kabupaten Sukabumi, dan mengakibatkan arus lalu lintas macet total.
Ketua Badan Pertimbangan Desa (BPD) Pamuruyan Dedi Safari kepada wartawan, Minggu, mengatakan, tanah longsor yang sampai menutup badan jalan ini terjadi Minggu, sekitar pukul 17.00 WIB, akibatnya arah kendaraan dari Sukabumi menuju Palabuhan Ratu maupun sebaliknya macet hingga beberapa kilometer.
"Sebelum longsor terjadi hujan deras, untungnya pada saat itu tidak ada kendaraan yang melewati jalan alternatif ini, namun percikan tanah yang longsor sempat mengenai rumah di seberang tebing yang longsor tersebut," kata Dedi Safari.
Menurutnya, karena longsor tersebut arus lalu lintas dari kedua arah baik dari Palabuhan Ratu maupun Sukabumi menjadi macet total karena tanah menutupi seluruh badan jalan. Untuk sementara ini, warga membersihkan tanah tersebut dengan alat seadanya.

  • "Sambil menunggu alat berat dari pemerintah setempat warga di sini membersihkan muatan tanah yang menutupi badan jalan dengan alat seadany," katanya. (Antara/Dwi Putro AA)
  • SUMBER:http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=298107
    Comments: (0)
    Sebuah banjir adalah peristiwa yang terjadi ketika aliran air yang berlebihan merendam daratan.[1] Pengarahan banjir Uni Eropa mengartikan banjir sebagai perendaman sementara oleh air pada daratan yang biasanya tidak terendam air.[2] Dalam arti "air mengalir", kata ini juga dapat berarti masuknya pasang laut. Banjir diakibatkan oleh volume air di suatu badan air seperti sungai atau danau yang meluap atau menjebol bendungan sehingga air keluar dari batasan alaminya.[3]
    Ukuran danau atau badan air terus berubah-ubah sesuai perubahan curah hujan dan pencairan salju musiman, namun banjir yang terjadi tidak besar kecuali jika air mencapai daerah yang dimanfaatkan manusia seperti desa, kota, dan permukiman lain.
    Banjir juga dapat terjadi di sungai, ketika alirannya melebihi kapasitas saluran air, terutama di kelokan sungai. Banjir sering mengakibatkan kerusakan rumah dan pertokoan yang dibangun di dataran banjir sungai alami. Meski kerusakan akibat banjir dapat dihindari dengan pindah menjauh dari sungai dan badan air yang lain, orang-orang menetap dan bekerja dekat air untuk mencari nafkah dan memanfaatkan biaya murah serta perjalanan dan perdagangan yang lancar dekat perairan. Manusia terus menetap di wilayah rawan banjir adalah bukti bahwa nilai menetap dekat air lebih besar daripada biaya kerusakan akibat banjir periodik.
    Mitos banjir besar adalah kisah mitologi banjir besar yang dikirimkan oleh Tuhan untuk menghancurkan suatu peradaban sebagai pembalasan agung dan sering muncul dalam mitologi berbagai kebudayaan di dunia.

    Daftar isi

     [sembunyikan] 

    [sunting] Jenis dan penyebab utama

    Lusinan desa terendam ketika hujan meluapkan sungai di barat laut Bangladesh pada awal Oktober 2005. Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (MODIS) di satelit Terra NASA menangkap citra banjir Sungai Ghaghat dan Atrai pada 12 Oktober 2005. Sungai biru gelap tersebar di seluruh pedesaan pada citra banjir ini.

    [sunting] Sungai

    • Lama: Endapan dari hujan atau pencairan salju cepat melebihi kapasitas saluran sungai. Diakibatkan hujan deras monsun, hurikan dan depresi tropis, angin luar dan hujan panas yang mempengaruhi salju. Rintangan drainase tidak terduga seperti tanah longsor, es, atau puing-puing dapat mengakibatkan banjir perlahan di sebelah hulu rintangan.
    • Cepat: Termasuk banjir bandang akibat curah hujan konvektif (badai petir besar) atau pelepasan mendadak endapan hulu yang terbentuk di belakang bendungan, tanah longsor, atau gletser.

    [sunting] Muara

    [sunting] Pantai

    [sunting] Malapetaka

    • Diakibatkan oleh peristiwa mendadak seperti jebolnya bendungan atau bencana lain seperti gempa bumi dan letusan gunung berapi).

    [sunting] Manusia

    • Kerusakan tak disengaja oleh pekerja terowongan atau pipa.

    [sunting] Lumpur

    • Banjir lumpur terjadi melalui penumpukan endapan di tanah pertanian. Sedimen kemudian terpisah dari endapan dan terangkut sebagai materi tetap atau penumpukan dasar sungai. Endapan lumpur mudah diketahui ketika mulai mencapai daerah berpenghuni. Banjir lumpur adalah proses lembah bukit, dan tidak sama dengan aliran lumpur yang diakibatkan pergerakan massal.

    [sunting] Lainnya

    • Banjir dapat terjadi ketika air meluap di permukaan kedap air (misalnya akibat hujan) dan tidak dapat terserap dengan cepat (orientasi lemah atau penguapan rendah).
    • Rangkaian badai yang bergerak ke daerah yang sama.
    • Berang-berang pembangun bendungan dapat membanjiri wilayah perkotaan dan pedesaan rendah, umumnya mengakibatkan kerusakan besar.

    [sunting] Dampak

    Banjir Mediterania di Alicante (Spanyol), 1997.

    [sunting] Dampak primer

    [sunting] Dampak sekunder

    • Persediaan air – Kontaminasi air. Air minum bersih mulai langka.
    • Penyakit - Kondisi tidak higienis. Penyebaran penyakit bawaan air.
    • Pertanian dan persediaan makanan - Kelangkaan hasil tani disebabkan oleh kegagalan panen.[4] Namun, dataran rendah dekat sungai bergantung kepada endapan sungai akibat banjir demi menambah mineral tanah setempat.
    • Pepohonan' - Spesies yang tidak sanggup akan mati karena tidak bisa bernapas.[5]
    • Transportasi - Jalur transportasi hancur, sulit mengirimkan bantuan darurat kepada orang-orang yang membutuhkan.

    [sunting] Dampak tersier/jangka panjang

    • Ekonomi - Kesulitan ekonomi karena penurunan jumlah wisatawan, biaya pembangunan kembali, kelangkaan makanan yang mendorong kenaikan harga, dll.

    [sunting] Pengendalian

    Di berbagai negara di seluruh dunia, sungai yang rawan banjir dikendalikan dengan hati-hati. Pertahanan seperti bendungan,[6] bund, waduk, dan weir digunakan untuk mencegah sungai meluap, peralatan darurat seperti karung pasir atau tabung apung portabel digunakan. Banjir pantai telah dikendalikan di Eropa dan Amerika melalui pertahanan pantai, seperti tembok laut, pengembalian pantai, dan pulau penghalang.

    [sunting] Eropa

    Mengingat penderitaan dan kehancuran yang diakibatkan Banjir Besar Paris 1910, pemerintah Perancis membangun serangkaian waduk bernama Les Grands Lacs de Seine (atau Danau-Danau Besar) yang membantu mengurangi tekanan dari Sungai Seine ketika terjadi banjir, khususnya banjir rutin pada musim dingin.[7]
    London terlindungi dari banjir laut oleh Thames Barrier, sebuah perintang mekanis besar melintasi Sungai Thames yang dinaikkan ketika permukaan air laut mencapai ketinggian tertentu.
    Venesia memiliki perintang sejenis, namun kota ini sudah tidak mampu menangani pasang laut yang sangat tinggi; sistem tanggul baru sedang dibangun. Pertahanan banjir London dan Venesia dapat dianggap tidak berguna jika permukaan laut terus naik.
    Sungai Adige di Italia Utara memiliki kanal bawah tanah yang memungkinkan sebagian alirannya dialihkan ke Danau Garda (di daerah aliran sungai Po) untuk mengurangi risiko banjir muara. Kanal bawah tanah ini digunakan dua kali, pada 1966 dan 2000.
    Sungai Berounka, Republik Ceko, menumpahkan aliran sungainya dalam banjir Eropa 2002 dan merendam rumah-rumah di desa Hlásná Třebaň, Distrik Beroun.
    Pertahanan banjir terbesar dan tercanggih di dunia dapat ditemukan di Belanda yang disebut Delta Works dengan bendungan Oosterschelde yang menjadi pencapaian terbesar dalam pembangunan sistem pengendalian banjir ini. Sistem ini dibangun sebagai tanggapan terhadap banjir Laut Utara 1953 di bagian barat daya Belanda. Belanda telah membangun salah satu bendungan terbesar di dunia di utara negara ini, yaitu Afsluitdijk (ditutup tahun 1932).
    Komplek Fasilitas Pencegahan Banjir Saint Petersburg di Rusia selesai dibangun tahun 2008 untuk melindungi Saint Petersburg dari banjir badai. Komplek ini juga memiliki fungsi lalu lintas, yaitu melengkapi jalan lingkar yang mengelilingi kota ini. Sebelas bendungan membentang sepanjang 25,4 kilometer dan berdiri delapan meter di atas permukaan laut.
    Di Austria, banjir selama 150 tahun dikendalikan melalui berbagai tindakan sesuai regulasi Danube Wina, termasuk pengerukan sungai utama Danube pada 1870–75 dan pembentukan Danube Baru pada 1972–1988.
    Pengelolaan risiko banjir di Irlandia Utara dilakukan oleh Rivers Agency.

    [sunting] Amerika Utara

    Tepi sungai gundul. Tumpukan pohon mati menjajari markah air tinggi.
    Puing-puing dan erosi tepi sungai yang tersisa setelah Banjir Sungai Red 2009 di Winnipeg, Manitoba.
    Banjir Pittsburgh 1936
    Banjir dekat Snoqualmie, Washington, 2009.
    Sistem pertahanan banjir dapat ditemukan di provinsi Manitoba, Kanada. Sungai Red mengalir ke utara dari Amerika Serikat, melintasi kota Winnipeg (sungai ini kemudian bertemu dengan Sungai Assinibone) menuju Danau Winnipeg. Sebagaimana semua sungai yang mengalir ke utara di zona sedang belahan Bumi utara, pencairan salju di bagian selatan dapat mengakibatkan permukaan sungai naik sebelum bagian utara mencair sepenuhnya. Ini dapat menyebabkan banjir bandang, seperti yang terjadi di Winnipeg selama musim semi 1950. Untuk melindungi kota ini dari banjir masa depan, pemerintah Manitoba melakukan pembangunan sistem pengalihan sungai, tanggul, dan jalur banjir massal (termasuk Red River Floodway dan Portage Diversion). Sistem ini melindungi Winnipeg dari banjir 1997 yang merendam banyak permukiman di hulu Winnipeg, termasuk Grand Forks, North Dakota dan Ste. Agathe, Manitoba. Sistem ini juga melindungi Winnipeg dari banjir 2009.
    Di AS, 35% Wilayah Metropolitan New Orleans yang berada di bawah permukaan laut dilindungi oleh bendungan dan pintu banjir sepanjang ratusan mil. Sistem ini gagal sepenuhnya di beberapa bagian ketika Badai Katrina menerjang kota dan bagian timur wilayah metropolitan. Akibatnya sekitar 50% wilayah metropolitan terendam, mulai dari beberapa sentimeter hingga 8,2 meter (beberapa inci hingga 27 kaki) di permukiman pesisir.[8] Dalam upaya pencegahan banjir, pemerintah federal Amerika Serikat menawarkan pembelian properti rawan banjir di Amerika Serikat untuk mencegah bencana terulang setelah banjir 1993 di seluruh Midwest. Beberapa permukiman menerima tawaran ini dan pemerintah federal bekerjasama dengan pemerintah negara bagian membeli 25.000 properti yang diubah menjadi lahan basah. Lahan basah ini berperan sebagai penyerap air ketika badai terjadi dan pada 1995, banjir terjadi dan pemerintah tidak perlu mengerahkan sumber daya di daerah-daerah tersebut.[9]:)

    [sunting] Asia

    Banjir Bangladesh 2009
    Di India, Bangladesh dan Cina (tepatnya di kawasan Kanal Besar Cina), daerah pengalihan banjir adalah kawasan pedesaan yang sengaja ditenggelamkan ketika keadaan darurat untuk melindungi wilayah perkotaan.[10]
    Banyak pihak mengatakan bahwa kehilangan vegetasi (deforestasi) akan mendorong peningkatan risiko. Dengan hutan alami yang mencegah banjir, durasi banjir akan berkurang. Mengurangi tingkat penebangan hutan akan mengurangi pula insiden dan tingkat keparahan banjir.[11]

    [sunting] Afrika

    Di Mesir, Bendungan Aswan (1902) dan Bendungan Tinggi Aswan (1976) telah mengendalikan berbagai banjir di sepanjang Sungai Nil.

    [sunting] Keselamatan pembersihan

    Aktivitas pembersihan setelah banjir biasanya mengancam pekerja dan relawan yang terlibat. Bahaya-bahaya mengancam tersebut yaitu air berpolusi yang tercampur dengan selokan bawah tanah, bahaya listrik, terpapar karbon monoksida, bahaya otot tengkorak, hipertermia atau hipotermia, bahaya kendaraan bermotor, kebakaran, tenggelam, dan terpapar bahan berbahaya.[12] Karena daerah banjir tidak stabil, pekerja pembersih bisa saja menemukan puing-puing tajam, bahan biologis dalam air banjir, kabel listrik, darah atau cairan tubuh lain, dan sisa-sisa hewan dan manusia. Dalam merencanakan dan merespon bencana banjir, manajer harus menyediakan helm keras, kacamata, sarung tangan kerja, jaket keselamatan, dan sepatu bot kedap air berlapis besi kepada para pekerja.[13]

    [sunting] Keuntungan

    Ada berbagai dampak negatif banjir terhadap permukiman manusia dan aktivitas ekonomi. Namun, banjir (khususnya banjir rutin/kecil) juga dapat membawa banyak keuntungan, seperti mengisi kembali air tanah, menyuburkan serta memberikan nutrisi kepada tanah. Air banjir menyediakan air yang cukup di kawasan kering dan semi-kering yang curah hujannya tidak menentu sepanjang tahun. Air banjir tawar memainkan peran penting dalam menyeimbangkan ekosistem di koridor sungai dan merupakan faktor utama dalam penyeimbangan keragaman makhluk hidup di dataran banjir.[14] Banjir menambahkan banyak sekali nutrisi untuk danau dan sungai yang semakin memajukan industri perikanan pada tahun-tahun mendatang, selain itu juga karena kecocokan dataran banjir untuk pengembangbiakan ikan (sedikit predasi dan banyak nutrisi).[15] Ikan seperti ikan cuaca memanfaatkan banjir untuk berenang mencari habitat baru. Selain itu, burung juga mendapatkan manfaat dari produksi pangan yang meledak setelah banjir surut.[16]
    Banjir rutin biasa terjadi di permukiman-permukiman kuno sepanjang Sungai Tigris-Eufrat, Nil, Indus, Gangga, dan Sungai Kuning. Kelangsungan sumber energi air terbarukan sangat tinggi di daerah rawan banjir.

    [sunting] Pemodelan komputer

    Meski pemodelan banjir merupakan praktik yang baru diterapkan, upaya untuk memahami dan mengelola mekanisme kerja di dataran banjir telah dilakukan selama enam milenium.[17] Pengembangan terkini dalam pemodelan banjir melalui komputer telah membantu para insinyur menghentikan uji coba pendekatan "tahan atau biarkan" dan kecenderungannya memperkenalkan struktur tahan banjir. Berbagai model banjir melalui komputer telah dikembangkan dalam beberapa tahun terakhir, yaitu model 1D (permukaan banjir yang diukur di saluran) dan model 2D (kedalaman banjir yang diukur sepanjang dataran banjir). HEC-RAS,[18] model Hydraulic Engineering Centre, saat ini merupakan pemodelan banjir yang paling terkenal karena gratis. Model lain seperti TUFLOW[19] menggabungkan komponen 1D dan 2D untuk mendapatkan informasi kedalaman banjir di dataran banjir. Sejauh ini, pemodelan lebih difokuskan pada pemetaan banjir pasang dan banjir sungai, namun karena banjir 2007 di Britania Raya pemodelan lebih diutamakan pada dampak yang muncul akibat banjir air permukaan.[20]

    [sunting] Banjir paling mematikan

    Berikut adalah daftar banjir paling mematikan di seluruh dunia dengan kematian 100.000 jiwa atau lebih.
    Kematian Peristiwa Letak Tanggal
    2.500.000–3.700.000[21] Banjir Cina 1931 Cina 1931
    900.000–2.000.000 Banjir Sungai Kuning (Huang He) 1887 China 1887
    500.000–700.000 Banjir Sungai Kuning (Huang He) 1938 China 1938
    231.000 Kegagalan Bendungan Banqiao akibat Taifun Nina. Sekitar 86.000 tewas karena banjir dan 145.000 lainnya karena penyakit akibat banjir. Cina 1975
    230.000 Tsunami Samudra Hindia Indonesia 2004
    145.000 Banjir Sungai Yangtze 1935 Cina 1935
    100.000+ Banjir St. Felix, banjir badai Belanda 1530
    100.000 Banjir Hanoi dan Delta Sungai Merah Vietnam Utara 1971
    100.000 Banjir Sungai Yangtze 1911 Cina 1911

    [sunting] Lihat pula

    [sunting] Catatan kaki

    1. ^ MSN Encarta Dictionary. Flood. Retrieved on 2006-12-28. Archived 2009-10-31.
    2. ^ Directive 2007/60/EC Chapter 1 Article2
    3. ^ Glossary of Meteorology (June 2000). Flood. Retrieved on 2009-01-09.
    4. ^ Southasianfloods.org
    5. ^ Stephen Bratkovich, Lisa Burban, et al., "Flooding and its Effects on Trees", USDA Forest Service, Northeastern Area State and Private Forestry, St. Paul, MN, September 1993, webpage: na.fs.fed.us-flood-cover.
    6. ^ Henry Petroski (2006). Levees and Other Raised Ground. 94. American Scientist. hlm. 7–11.
    7. ^ See Jeffrey H. Jackson, Paris Under Water: How the City of Light Survived the Great Flood of 1910 (New York: Palgrave Macmillan, 2010).
    8. ^ United States Department of Commerce (June 2006). "Hurricane Katrina Service Assessment Report" (PDF). Diakses pada 14 Juli 2006.
    9. ^ Amanda Ripley. "Floods, Tornadoes, Hurricanes, Wildfires, Earthquakes... Why We Don't Prepare." Time. August 28, 2006.
    10. ^ "China blows up seventh dike to divert flooding." China Daily. 2003-07-07.
    11. ^ Bradshaw CJ, Sodhi NS, Peh SH, Brook BW. (2007). Global evidence that deforestation amplifies flood risk and severity in the developing. Also a flood has recently hit Pakistan which is said to be more devastating then the Tsunami of 2005 world. Global Change Biology, 13: 2379–2395.
    12. ^ United States National Institute for Occupational Safety and Health (NIOSH). Storm and Flood Cleanup. Accessed 23 September 2008.
    13. ^ NIOSH. NIOSH Warns of Hazards of Flood Cleanup Work. NIOSH Publication No. 94-123.
    14. ^ WMO/GWP Associated Programme on Flood Management "Environmental Aspects of Integrated Flood Management." WMO, 2007
    15. ^ Extension of the Flood Pulse Concept
    16. ^ Birdlife soars above Botswana's floodplains
    17. ^ Dyhouse, G. et al. "Flood modelling Using HEC-RAS (First Edition)." Haestad Press, Waterbury (USA), 2003.
    18. ^ United States Army Corps of Engineers. Davis, CA. Hydrologic Engineering Center.
    19. ^ BMT WBM Ltd. Spring Hill, Queensland. "TUFLOW Flood and Tide Simulation Software."
    20. ^ Cabinet Office, UK. "Pitt Review: Lessons learned from the 2007 floods." June 2008.
    21. ^ Worst Natural Disasters In History

    [sunting] Bahan bacaan

    • O'Connor, Jim E. and John E. Costa. (2004). The World's Largest Floods, Past and Present: Their Causes and Magnitudes [Circular 1254]. Washington, D.C.: U.S. Department of the Interior, U.S. Geological Survey.
    • Thompson, M.T. (1964). Historical Floods in New England [Geological Survey Water-Supply Paper 1779-M]. Washington, D.C.: United States Government Printing Office.
    • Powell, W. Gabe. 2009. Identifying Land Use/Land Cover (LULC) Using National Agriculture Imagery Program (NAIP) Data as a Hydrologic Model Input for Local Flood Plain Management. Applied Research Project. Texas State University – San Marcos.

    [sunting] Pranala luar

    SUMBER:http://id.wikipedia.org/wiki/Banjir
    AP Foto ini, yang memperlihatkan jurang menganga di jalan raya Jepang, menunjukkan kekuatan gempa pada 11 Maret lalu.
    TOKYO, KOMPAS.com — Para peneliti Jepang memperingatkan ada 70 persen kemungkinan Metropolitan Tokyo dilanda gempa besar dalam empat tahun mendatang. Gempa bumi yang muncul diperkirakan berkekuatan 7 skala Richter. Perkiraan ini lebih meyakinkan ketimbang prediksi sebelumnya.

    Hal itu diutarakan para peneliti dari University of Tokyo, yang mempunyai keahlian soal gempa bumi, sebagaimana diberitakan harian Yomiuri edisi Senin (23/1/2012), di Tokyo, Jepang.

    Perkiraan itu didasarkan pada data-data mutakhir tentang frekuensi tremor di kawasan Metropolitan Tokyo sejak 11 Maret 2011. Tanggal ini merujuk pada serangan gempa besar pada tahun lalu yang juga memunculkan tsunami di timur laut Tokyo.

    Berdasarkan data dari lembaga meteorologi Jepang, terdapat rata-rata 1,48 kali serangan gempa setiap hari dengan kekuatan 3-6 skala Richter di dan sekitar Tokyo sejak Maret 2011.

    Frekuensi serangan gempa ini lima kali lebih tinggi dari serangan sebelumnya, yang menandai akan datangnya gempa besar. Pemerintah Jepang sebelumnya juga telah meramalkan, kemungkinan 70 persen akan terjadi gempa besar di kawasan Tokyo dalam 30 tahun mendatang.

    Peringatan para peneliti Jepang ini tampaknya tidak main-main. Sebelum gempa besar di Jepang pada Maret 2011, para peneliti Jepang juga sudah menyimpulkan bahwa sebagian wilayah Jepang akan menghadapi gempa bumi besar.

    Naoshi Hirata, salah satu anggota tim peneliti dari University of Tokyo, mengatakan, data-data yang ada menunjukkan gerakan seismik telah meningkat di sekitar ibu kota Jepang itu.

    Data-data itu pada umumnya mengarah pada potensi lebih besar bahwa gempa besar akan terjadi. Gempa besar kali ini juga dikatakan sebagai sebuah gempa yang sangat signifikan.

    Gempa besar tahun lalu di Jepang berkekuatan 9 skala Richter dan mengakibatkan 19.000 warga meninggal atau hilang sampai sekarang. Gempa tersebut juga merusak pembangkit listrik tenaga nuklir di Prefektur Fukushima dan menyebabkan kebocoran radiasi nuklir.

    Gempa Kanto

    Terakhir kali Tokyo terkena gempa besar pada tahun 1923 dengan kekuatan 7,9 skala Richter. Gempa yang disebut dengan Great Kanto Earthquake ini menewaskan 100.000 warga, hampir semuanya meninggal akibat kebakaran.

    Pada tahun 1855, gempa yang dinamai Ansei Edo juga memorakporandakan Tokyo.

    Jepang berada di persimpangan lempeng tektonik—dikenal sebagai Pacific Ring of Fire (Cincin Api Pasifik)—yang sarat dengan gerakan vulkanik. Negara ”Samurai” ini terkenal sebagai negara yang paling rawan terserang gempa.

    Tokyo terletak di salah satu titik paling bahaya. Metropolitan Tokyo ada di atas pertemuan tiga lempeng benua, yakni Lempeng Eurasia, Lempeng Pasifik, dan Lempeng Laut Filipina. Tiga lempeng ini saling berdesakan dan menciptakan tekanan seismik luar biasa.

    Karena itu, sejak kecil warga Jepang sudah diajarkan tentang hidup di tengah potensi gempa.  (AP/MON)
    SUMBER:http://internasional.kompas.com/read/2012/01/24/07545177/Gempa.Besar.Akan.Melanda.Tokyo
    BANDA ACEH--MICOM: Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika mengusulkan agar di wilayah pantai barat Provinsi Aceh dipasang alarm peringatan dini tsunami, karena di daerah itu sering digoyang gempa.

    Kepala Badan Metereologi Klimatologi dan Geofisika Meulaboh, Kabupaten Nagan Raya, Edi Darlupti saat dihubungi di Meulaboh, Minggu (15/1), mengatakan seharusnya pemerintah setempat memasang alarm peringatan tsunami sebagai tanggung jawab kepada masyarakat.

    "Kami sudah pernah membicarakan hal itu dengan Pemda Aceh Barat dan sekitarnya namun masih terkendala dana, karena itu kita harapkan kearifan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pusat untuk mengupayakan hal itu," katanya.

    Menurut Edi, pembuatan sirene tersebut sangat dibutuhkan, khususnya kawasan pantai barat Aceh yang meliputi Kabupaten Aceh Barat, Aceh Jaya, Nagan Raya, Siemeulu, Aceh Selatan dan Kabupaten Aceh Barat Daya yang berada di pesisir laut.

    Terlebih melihat pengalaman beberapa kali guncangan gempa, meskipun hanya gempa berkekuatan 5,0 skala Richter ke bawah yang tidak berpotensi tsunami, namun masyarakat panik dan trauma teringat akan terulangnya tsunami seperti 26 Desember 2004.

    Ia menambahkan, selama ini pemasangan "Tsunami Early Warning Syistem" hanya ditempatkan di ibu kota Banda Aceh yang berjarak sekitar 360 kilometer arah barat Kota Meulaboh.

    "Paling kurang untuk per kabupaten seperti Aceh Barat itu minimal enam unit harus dipasangkan, begitu juga daerah Siemeulu karena daerah kita ini paling sering digoyang gempa," jelas Edi.

    Lebih lanjut dikatakan, selama ini pemerintah daerah dari Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) harus bekerja ekstra membunyikan sirene mobil pemadam kebakaran apabila gempa terjadi berpotensi tsunami.

    Menurut dia, pihak BMKG juga siap dan bersedia membantu pendanaan dibuatnya sirene untuk Aceh Barat agar diajukan ke BMKG pusat, namun harus mendapat pengajuan dari setiap daerah.

    Seharusnya, menurut Edi Darlupti, pemerintah daerah wilayah setempat sejak tsunami 26 Desember 2004 harus sudah mengajukan pendanaan dibuatkan sirene yang harganya diperkirakan Rp1 miliar lebih per unit.

    "Kalau pemda mengajukan melalui kita, mungkin kita siap membantu, namun secara tertulis belum pernah ada, karenanya kita mengharapkan bagaimana upaya Pemerintah Provinsi Aceh juga memikirkan pengadaan sirene ini," katanya. (Ant/OL-2)
    SUMBER:http://www.mediaindonesia.com/read/2012/01/15/291580/126/101/Pantai-Barat-Aceh-Butuh-Alarm-Tsunami
    SUVA - Hujan deras sejak akhir pekan lalu telah menyebabkan bencana banjir dan tanah  longsor melanda Fiji.

    Enam orang dilaporkan tewas akibat bencana ini. Sementara ribuan orang terpaksa mengungsi ke tempat penampungan sementara.

    "Banjir dan tanah longsor telah memaksa 3.500 warga mengungsi. Beberapa diantara mereka telah kehilangan harta benda," ujar seorang pejabat berwenang Fiji seperti dikutip Associated Press, Kamis, (26/1/2012).

    Pejabat Fiji juga mengatakan, longsor yang terjadi Rabu kemarin telah menewaskan sebuah keluarga di desa terpencil di Pulau Viti Levu.

    Bencana longsor juga turut menyebabkan dua petani tewas saat mereka mencoba menyelamatkan hewan ternak mereka. Namun hal tersebut justru menambah duka dari keluarga korban.(rhs)
    SUMBER:http://international.okezone.com/read/2012/01/26/414/563726/longsor-tewaskan-6-warga-fiji 
    Free Tree ani Cursors at www.totallyfreecursors.com